PROSES MERAWAT JENAZAH


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبرَكَاتُهُ

PROSES MERAWAT JENAZAH

 

A. PROSES MERAWAT JENAZAH

            1. MEMANDIKAN

                        2. MENGKAFANI

                                    3. MENSHOLATKAN

                                                4. MEMAKAMKAN

 

1. MEMANDIKAN

     A. Hukum memandikan Jenazah adalah FARDHU KIFAYAH sebagaimana dalam kesepakatan para ulama dengan dasar beberapa hadits Rasulullah SAW :

 

      1 .“Kecuali orang yang mati syahid yang gugur karena membela agama Allah SWT tidak harus dimandikan. Adapun yang terhitung syahid seperti tenggelam dan tetap dimandikan”

 

      2. “Seseorang yang paling berhak untuk memandikan jenazah adalah orang yang paling utama mensholatkannya. Orang laki-laki lebih utama untuk memandikan jenazah laki-laki. Orang perempuan untuk jenazah perempuannya”.  

      3. “Seorang suami boleh dan halal memandikan jasad isterinya begitupula isteri terhadap suaminya. Begitupula halnya bagi seorang anak boleh dan halal memandikan jasad ayah dan ibunya dan begitu juga sebaliknya”.

 

      4. “Haram hukumnya menyebut keadaan yang kurang baik keaiban yang ada pada jasad jenazah saat memandikan dan setelah memandikan”.

 

Catatan:

            Yang memandikan jenazah adalah yang paling Amanah dan memiliki  pengetahuan tentang Fardhu Kifayah


 

B. Macam-macam yang dipakai untuk memandikan jenazah

   

    A.  A I R

         1. Air yang digunakan untuk memandikan jenazah adalah air yang suci lagi mensucikan atau air mutlak.

         2. Macam-macam campuran air untuk memandikan jenazah :

                 a.  Air daun bidara atau pacar

                 b.  Air rendaman langer

                 c.  Air campuran kapur

                 d.  Air campuran bedak (jika perempuan)

   

    B.  PEMBERSIH

         Alat-alat pembersih yang digunakan sebaiknya yang diketahui kehalalannya;

        1. Sabun yang baik untuk dipakai memandikan

        2. Pembersih rambut atau shampoo

        3. Spon atau sarung tangan untuk melakukan penggosokan

        4. Lidi dan potongan kain untuk membersihkan kuku, gigi, lubang hidung, telinga dan mulut

   

    C.  K A I N

            1.  Kain untuk menutupi aurat saat memandikan

            2.  Kain untuk mengeringkan bekas pemandian

            3.  Kain untuk melapisi jenazah sebelum dikafani

 

C. Tata cara memandikan jenazah

       a. .Melepaskan pakaian yang masih  dipakai dan diganti  dengan kain penutup aurat

    b. Lepaskan segala yang terpasang di jasad jenazah seperti gigi palsu dan lain sebagainya kecuali susah untuk dilepas dan merusak jenazah

          c. Tutup ruangan pemandian dari pandangan orang ramai

d.    Pembersihan jenazah dimulai dari sebelah kanan dari anggota tubuh

e.    Meratakan air sampai ke seluruh tubuh jenazah kecuali yang bermasalah cukup dengan ditayammumkan

f.     Menghilangkan segala jenis kotoran yang menempel di tubuh jenazah

g.    Sempurna dengan beberapa kali siraman

 

D. Cara memandikan jenazah

     a.  Tubuh jenazah dibaringkan seperti biasa

 

- Do’a saat menghadap jenazah:

 اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ (لَهَا) وَارْحَمْهُ (هَا) وَاَدْخِلْهُ (هَا) الْجَنَّةَ

 “Ya Allah ampunkan dosanya, rahmatilah ia dan masukkanlah ia ke dalam surga”         

 

- Do’a saat melihat jenazah;

بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

 “Dengan nama Allah dan atas nama agama Rasulullah saw”

           

- Do’a memandikan orang mati dewasa;

نَوَيْتُ الْغُسْلَ عَنْ هَذَا الْمَيِّتِ / هَذِهِ الْمَيِّتَةِ

فَرْضَ الْكِفَايَةِ ِللهِ تَعَالَى

 “Sengaja saya niat  memandikan mayat  ini Fardhu  Kifayah karena Allah ”

           

- Do’a memandikan orang mati anak-anak;

نَوَيْتُ الْغُسْلَ عَنْ هَذَا الْمَيِّتِ الطِّفْلِ / هَذِهِ الْمَيِّتَةِ الطِّفْلَةِ فَرْضَ الْكِفَايَةِ ِللهِ تَعَالَى

 “Sengaja saya niat memandikan mayat anak ini Fardhu Kifayah karena Allah

 

     b.  Siramlah air untuk menghilangkan segala  kotoran

     c. Angkat bagian punggung jenazah dan sedikit tekanan pada bagian perut untuk mengeluar- kan sisa kotoran dari tubuh jenazah

     d. Tutup atau sumbat lubang bagian tubuh jenazah yang sudah dibersihkan dengan kapas

     e. Lakukan penyiraman berkali-kali untuk meratakan air sampai pada seluruh tubuh jenazah

     f.   Diwudhukan seperti wudhu untuk sholat

     g.  Siraman dilakukan sebanyak 9x dan  diiringi dengan do’a :

 غُفْرَانَكَ يَا رَحْمَنُ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ   ×3   Sebelah kanan   

 غُفْرَانَكَ يَا رَحِيْمُ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ    ×3     Sebelah kiri

 غُفْرَانَكَ يَا اللهُ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ   ×3        Atas ke bawah

 

 

2. M E N G K A F A N I



A. Hukum mengkafani jenazah

    Adalah Fardhu Kifayah dan dilaksanakan dengan cara yang       baik dan benar sesuai dengan tuntunan Syari’at Islam

 

B. Cara mengkafani Jenazah laki-laki

    1. Siapkan kain seukuran tinggi tubuh jenazah dengan dilebihkan sepemegangan sebanyak 3 lembar dengan masing-masing ditambah setengah lembar dengan ditemukan atau dijahit salah satu sisinya 

    2. Siapkan kapas untuk melapisi setiap persendian dan gunakan secukupnya tidak untuk seluruh tubuh

    3. Taburkan tumbukan kapur barus yang sudah dicampur dengan gaharu secukupnya di atas kapas dan atau kain kafan

    4. Potong kuku jari kaki dan jari tangan jenazah dan bersihkan atau rapikan bulu-bulu dan rambut nya kecuali bulu pada bagian kemaluan

    5. Masukkan potongan kuku dan rambut jenazah pada lipatan kain kafan

    6. Lipat kain kafan pada tubuh jenazah dimulai dari kain yang kiri lalu diikuti yang kanan sebanyak tiga lipatan

    7. Ikat tubuh jenazah yang telah dikafani dengan  5, 7 atau 9 bagian ikatan

  

C.   Cara mengkafani jenazah wanita:

       1. Siapkan kain seukuran tinggi tubuh jenazah dengan dilebihkan      sepemegangan sebanyak 2 lembar dengan masing-masing    ditambah setengah lembar dengan ditemukan atau dijahit salah satu sisinya

              

       2.   - Satu lembar kain untuk sarung  cawat

              - Satu lembar kain untuk baju dan

              - Satu lembar kain untuk kerudung 

      

       3. Siapkan kapas untuk melapisi setiap persendian dan gunakan secukupnya tidak untuk seluruh tubuh

         

       4. Taburkan tumbukan kapur barus yang sudah dicampur dengan gaharu secukupnya di atas kapas dan atau kain kafan

       5.  Potong kuku jari kaki dan jari tangan jenazah dan bersihkan atau   rapikan bulu-bulu dan rambut nya kecuali bulu pada bagian kemaluan

           

       6. Masukkan potongan kuku dan rambut jenazah pada lipatan kain kafan

 

       7.  Lipat kain kafan pada tubuh jenazah dimulai dari kain yang kiri lalu diikuti yang kanan sebanyak tiga lipatan

 

       8 . Ikat tubuh jenazah yang telah dikafani dengan tali sobekan kain kafan 5, 7 atau 9 bagian ikatan

 

      Catatan : Haram mengkafani jenazah dengan kulit dan haram menulis lafadz apapun pada kain kafan kecuali dengan air yang tidak meninggalkan bekas pada kain kafan.

 

D. Cara menangani jenazah anak-anak dan bayi yang diakibatkan karena keguguran

      1.  Jika jenazah itu seorang anak atau bayi yang dilahirkan

           dengan sempurna keadaan kemanusiaannya, bergerak atau bersuara maka penanganannya sama seperti jenazah dewasa baik laki-laki maupun perempuan yakni dimandikan,  dikafani, disholati dan dikuburkan

       2. Jika meninggal dalam kandungan dan belum genap 4 bulan  usia kandungan cukup dengan dibungkus dan dikuburkan tidak wajib dimandikan namun hukumnya boleh dimandikan dan tidak wajib disholati

 

3. M E N S H O L A T K A N

   

    I. Syarat sholat jenazah

         1. Syarat-syarat sholat secara umum juga menjadi syarat sholat jenazah, seperti menutup aurat,suci badan dan pakaian, menghadap ke kiblat dll

         2.   Dilakukan sesudah jenazah dimandikan dan dikafankan

         3.  Letakkan jenazah di arah kiblat orang yang mensholatkan, kecuali kalau sholat itu dilaksanakan di atas kubur atau sholat ghoib.


      


   

 II.  Rukun sholat jenazah

        

         1. Niat

اُصَلِّى عَلَى هذَا الْـمَيِّتِ / هذِهِ الْمَيِّـــتَةِ اَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ (اِمَامًا / مَأْمُوْمًا ) ِللهِ تَعَالَي            

         2. Takbir 4 (empat) kali dengan takbiratul ihram

 

         3. Membaca Al-Fatihah setelah takbiratul ihram

 

         4. Membaca sholawat Nabi SAW setelah takbir kedua

 

         5. Mendo’akan jenazah setelah takbir ketiga

 

         6. Takbir keempat do’a kemudian salam

  


 

3. Takbir Ketiga : Membaca do’a

 

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ (هَا) وَارْحَمْهُ (هَا) وَعَافِهِ (هَا) وَاعْفُ عَنْهُ (هَا)

“Ya Allah ampunilah dosa dia, sayangilah dia dan maafkanlah semua kesalahannya”

 

3. Takbir Keempat : Membaca do’a kemudian salam

 

اَللّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا اَجْرَهُ (هَا) وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ (هَا) وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ (هَا)

“Ya Allah janganlah Engkau halangi (tutup) kami dari mendapat pahalanya, janganlah Engkau beri kami fitnah sepeninggalannya dan ampunilahkamidan dia”

 

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

“Selamat atas kalian semua di dunia maupun di akherat, serta rahmat dan berkah dari Allah atasnya”

 

 

 


 


 

4.  MEMAKAMKAN JENAZAH

 

A.   Hukum Memikul dan mengikuti jenazah;

 

          Wajib memikul mayat dan mengikutinya. Hal ini termasuk hak mayat muslim atas kaum muslimin yang lainnya. (HR.Bukhori Muslim).

 

* Mengikuti mayat ada 2 derajat :

   a.  Mengikutinya di keluarganya sampai mensholatkannya.

   b. Mengikutinya di keluarganya sampai selesai penguburannya, dan inilah yang lebih utama. Rasulullah saw bersabda

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتَّبِعْهَا فَلَهُ قِيْرَاطٌ، فَاِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيْرَاطَانِ. قِيْلَ وَمَا الْقِيْرَاطَانِ ؟ قَالَ : أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Rasulullah saw bersabda : Barang siapa menyolatkan jenazah namun tidak mengiringinya, maka baginya pahala satu QIRATH. Jika ia sampai mengikutinya, maka baginya pahala dua QIRATH. Dikatakan, apa itu QIRATH wahai Rasulullah ? QIRATH itu semisal Gunung Uhud. (HR. Muslim)

 

B. KETENTUAN MENGUBURKAN JENAZAH

  a. Lokasi  penguburan di tanah yang tidak bersengketa, boleh di tanah pribadi namun sebaiknya di tanah wakaf.

 

     b. Menggali liang kubur sedalam 4 (empat) hasta atau sedalam yang di perkirakan aroma bau jenazah tidak mungkin ke luar / tercium.

 

    c. Penguburan jenazah juga  menghindari dari pembongkaran binatang buas.   Jika penggalian lubang di tanah dirasa susah atau tidak mungkin maka wajib menimbun jenazah dan membangun dinding atau mendindinginya

 

    d.  Wajib meletakkan jenazah menghadap ke kiblat

 

    e. Sunnah menempelkan pipi kanan jenazah pada tanah setelah kafannya di buka dan memberi alas kepala pada jenazah dengan tanah.

 

    f. Makruh meletakkan jenazah di dalam peti dan cukup menggunakan dinding ari yang terdiri dari pelepah papan atau papan yang mudah hancur, jika tidak ada kekhawatiran tanahnya akan longsor . Jika dikhawatirkan tanahnya longsor maka wajib jenazahnya di masukkan ke dalalm peti.

 

  g. Haram menguburkan dua orang jenazah yang berlainan jenis kelamin dalam satu liang kubur. Jika tidak ada hubungan mahram atau sebagai suami isteri dan jika ada hubungan maka hukumnya makruh

 

    h. Haram meletakkan jenazah pada lubang kubur yang masih ada jenazah yang lainnya sekalipun sejenis dan jika didapati tulang belulang pada saat penggalian maka penggalian lubang tersebut wajib dihentikan dan ditimbun kembali. Namun jika setelah selesai penggalian ditemukan tulang, maka tulang tersebut harus diletakkan/dikubur bersamaan penguburan jenazah

 

    i. Haram membangun tambak secara permanen pada kuburan yang berada pada tanah wakaf umum tanpa adanya kepentingan sesuai syara’

 

  j. Haram membuang sesuatu yang masih basah dari atas perkuburan sebelum kering, seperti pelepah pohon, bunga, dedaunan dan sebagainya karena sama halnya dengan menghilangkan kemanfaatan bagi si mayit.

 

   k. Sunnah membaca do’a sambil menaburkan pasir atau sesuatu di atas kubur;

         - Yang pertama                                              مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ  

       - Yang kedua                                                      وَفِيْهَا نُعِيْدُكُمْ  

         - Yang ketiga                      وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً اُخْرَى      

 

 

Comments